06 January 2009

-FOKER LSM PAPUA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL, 25 DESEMBER 2008 DAN TAHUN BARU, 1 JANUARI 2009-

Rumah | Tentang Papua Room | Links | Disclaimer | Hubungi Kami | ENGLISH

Sejarah
Peran LSM di Papua
Visi, Misi dan Tujuan
Sekretaris Executive (1991-2006)
Steering Committe (1991-2006)
Struktur Organisasi
Partisipan dan Mitra
 
Advokasi dan Studi Kebijakan Publik
Pengembangan Kapasitas Regio
Pengembangan Jaringan Informasi dan Komunikasi
Pengembangan Kapasitas Sekretariat dan Kelembagaan
 
17 Sep 2008
Rongrongan Amerika Serikat di Bumi Cendrawasih
22 Aug 2008
Front Papera Papua Barat Menuntut Penegakkan Hak Bangsa Pribumi
11 Aug 2008
Tak ada Harga Mati di Dunia ini
08 Jul 2008
10 Tahun Tragedi Biak Berdarah, Tanpa Penyelesaian
30 Jun 2008
Jalan Raya Lintas Papua, Berpeluang Menyingkirkan Masyarakat Adat
 
03 Jul 2008
Pelatihan Gender & Kesehatan
21 Apr 2008
Call for Applications for Diplomacy Training Program's Regional Indigenous Course
21 Apr 2008
WORKSHOP : Conflict Resolution in Agricultural Issues”
16 Apr 2008
LSM Desak Presiden Evaluasi Kinerja Jaksa Agung
09 Apr 2008
Fulbright Interfaith Community Action Program
09 Apr 2008
PENGUMUMAN BEASISWA FULBRIGHT (AMERIKA)
31 Mar 2008
PETISI SURVIVOR PAPUA 2008
26 Mar 2008
Keberatan atas Pembentukan Perwakilan Komnas HAM Papua
26 Mar 2008
Lomba Opini – Hadiah Total Rp. 10 juta :Tema : Hutan Lindung, PP 02/2008 & Keselamatan Rakyat.
13 Mar 2008
PENANGGUHAN PENAHANAN TERDAKWA OLIF SABAR IWANGGIN
 
 
Forum Diskusi (Seminar, FGD, Lokakarya, Semiloka, dll)
Forum Partisipan (Tahunan)
Pertemuan Partisipan (3 Tahunan)
Rapat Internal Sekretariat
 
AUDIT BPK 2007
AUDIT BPK SEMESTER I
BULETTIN PODIUM
HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER I BPK RI TAHUN 2006
Kertas Posisi
Publikasi
Studi dan Riset Tentang Papua
Tim Advokasi Papua Tanah Damai (TAPTD)
 
Keuangan
Logo
Monev Foker LSM Papua
Statuta
 

Login Anggota | VHR Internet Streaming | Redaksi Papua Room | Editorial | Berita Harian
Info Buku | Features | Opini | Siaran Pers | Suara Pembaca | Artikel
Analisa Trend Sosial Politik Papua | Polling

Informasi

Opini



Oleh Rosihan Anwar

TITUS Natkime, 31, putra seorang pemimpin suku yang bertemu dengan orang Amerika pertama yang berjalan ke hutan Papua kira-kira 50 tahun yang silam, berbagai beberapa kabar tertulis dengan majikannya yaitu perusahaan Amerika Freeport-Mc-Moran. Selama generasi demi generasi suku Natkime mengklaim sebagai miliknya banyak dari tanah di propinsi Papua di mana Feeport menambang salah satu dari cadangan tembaga dan emas paling kaya di dunia. Sekarang tiba saatnya untuk membayar kembali, ujar Natkime, demikian ulis wartawan New York Times Jane Perlez dari Jakarta dan dimuat dalam International Herald Tribune (1-2 April, 2006).
Sebuah rancangan dokumen memperlihatkan tawaran Freeport belum lama berselang yaitu 250.000 dollar AS untuk mendirikan sebuah yayasan bagi suku Natkime, ditambah dengan jumlah 100.000 dolar sebuah tahun, suatu jumlah besar di propinsi Indonesia yang paling jauh letaknya dan paling miskin keadaannya.
"Kenapa saya harus menerimanya ? Itu suatu penghinaan" ujar Natkime. Sebagai perbandingan, kata Natkime, Freeport memperoleh pendapatan puluhan juta dolar tiap hari. Akhirnya keluarga telah menerima uang itu, katanya, tapi dia merencanakan tuntutan hukum dan meminta honorarium (royalties). Sikap menantang demikian menunjukkan keadaan sulit di Papua di mana empat orang tewas dalam minggu-minggu belakangan dalam demo protes menentang Freeport. Dan dia menimbulkan beberapa pertanyaan sulit. Dengan biaya berapa bagi perusahaan multinasional dan bagi penduduk setempat seharusnya sumber daya alam apakah itu emas, minyak atau gas alam digali di bagian-bagian miskin dari bumi ? Bagaimanakah sumber-sumber itu dapat digali dengan fair (adil) ?
Keuntungan-keuntungan Freeport memang sedang meningkat seraya harga-harga emas mencapai peringkat tinggi dalam waktu 25 tahun sejumlah lebih 550 dolar AS satu ounce. Freeport yang berbasis di New Orleans yang punya mitra patungan tambang raksasa Rio Tinto di Papua adalah salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia dan keadaan itu telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.
Setelah mengatakan demikian, protes-protes di Papua memperlihatkan apa yang dapat terjadi, apabila suatu perusahaan sumber daya alam, di dukung oleh suatu pemerintah pusat yang tidak populer dan militer bertangan besi gagal memberikan perhatian cukup yang kepada penduduk setempat yang kehidupannya telah diganggu dan yang merasa kekayaan di dalam bumi itu kepunyaannya, bukan kepunyaan orang asing.
Pada bulan April 2006 Citigroup menggemakan tema sambil berkata dalam sebuah laporan bahwa perusahaan-perusahaan demikian tiada lagi dapat menganggap sepi isu-isu lingkungan dan sosial. "Dalam tahun-tahun belakangan bangkitnya pendapat publik telah menyebabkan pembangunan berkelanjutan menjadi suatu pertimbangan bisnis serius bagi para investor" bunyi laporan itu. Mark Logsdon, seorang ahli geokimia Amerika yang telah mengunjungi tambang Freeport setuju. Ia mengatakan perusahaan-perusahaan tambang harus mengusahakan dan memberlakukan serius "persetujuan pihak yang diperintah apakah di Indonesia Amerika Latin atau Afrika peningkatan kemampuan komunikasi berarti bahwa keterpencilan esensial "tanah jajahan sumber daya alam" buat sebagian adalah suatu hal dari masa lampau."
Itu berarti bahwa zaman telah berubah bagi perusahaan multinasional dan pemerintah-pemerintah yang sudah lama terbiasa mengatur konsensi-konsensi di daerah-daerah yang jauh letaknya dengan suatu jabatan tangan di atas kepala penduduk setempat. Pada satu masa, tidak ada tempat yang begitu jauh seperti Papua, di mana penjelajah-penjelajah Freeport pertama bertemu dengan orang-orang Papua yang bersenjata busur panah dan memakai koteka, suatu kebiasaan yang masih eksis sekarang.
Bagaimana juga pemerintah mencoba memelihara isolasi atau keterpencilan, selama dua tahun belakangan pemerintah melarang wartawan asing mengunjungi propinsi Papua, dan memberikan izin hanya jarang sekali, luasnya masalah sulit disembunyikan. Bulan Maret ketegangan yang telah lama membara meletus, ketika polisi anti hura hara bentrokan dengan beberapa ratus orang pemerotes di ibukota propinsi Jayapura yang berakibat tiga orang anggota Polri dan seorang tentara Angkatan Udara tewas. Orang-orang Papua mengatakan mereka tidak pernah terima bagian yang adil dari jumlah 33 milyar dolar AS yang menurut Freeport telah diberikan kepada Indonesia dari 1992 hingga 2004.
Rakyat yang berdiam sekitar tambang mengatakan omong kosong mengenai lebih dari 150 juta dolar yang menurut Freeport diberikan untuk program pembangunan komunitas. Sebaliknya, penduduk mengeluh telah kehilangan aset-asetnya paling berharga: tanahnya, sistim sungainya yang dipakai sebagai tempat pembuangan sampah limbah dan kebun-kebun pohon sagunya yang telah hilang lebih dari 233 kilometer per segi, limbah tambang yang menumpuk dengan laju kurang lebih 700.000 ton sehari.
Sakit hati diperbesar oleh kehadiran militer Indonesia yang sering memikirkan memperoleh bagiannya sendiri dari sumberdaya propinsi yang tidak hanya mencakup emas dan tembaga, tapi juga kayu. Pemerintah Indonesia tahu dia berada dalam suatu keadaan sulit. Sedari semula Papua merupakan isu sensitif bagi Freeport. Keluarga Natkime adalah sebuah contoh.
Freeport telah membayar ongkos perjalanan Natkime di Amerika Serikat, membiayai latihan bahasa Inggerisnya di New Zealand, dan memberikan sebuah rumah kepadanya di Jakarta. Dalam upaya lebih lanjut untuk membujuk hati keluarganya, Freeport mempekerjakannya di departemen humas pemerintahan, kendati dia sebetulnya bukan jurubicara baik bagi apa yang dikatakan oleh perusahaan sebagai keuntungan-keuntungan yang telah dibawanya ke Papua. Natkime dan orang-orang Papua lain menuntut lebih banyak.
Hal itu bertentangan dengan tajam dengan bagaimana caranya perusahan Freeport menyenangkan hati ayah Natkime yaitu Tuarek di tahun 1967. Balfaour Darnell yang membangun kamp basis pertama dari Freeport melunakkan kecurigaan Tuarek terhadap orang-orang asing dengan sebuah perkakas sederhana yang merupakan setengah kampak dan setengah martil penokok. "Itu saja sudah cukup" ujar Darnell mengenai kesenangan hati Tuarek. "Dia berada di langit ketujuh dengan benda tersebut".
Dengan janji beberapa karung garam, Tuarek memimpin suku itu mengatakan dia akan membuat sebuah tempat pendaratan bagi pesawat helikopter. "Maka kami terbang dan itulah penghabisan pertemuan" ujar Darnell. "Kami selamat" katanya. Kini di masa putra Tuarek yaitu Titus Natkime yang lebih terpelajar, lebih banyak menuntut, tiadalah jelas bagaimana aman atau selamatnya keadaan, demikian tulis Jane Perlez dalam New York Times.*




© 2006-2007 FokerLSMPapua.org, All rights reserved. E-mail : info@fokerlsmpapua.org